Bayi baru lahir sering menunjukkan gerakan spontan yang terkadang membuat orang tua merasa heran. Misalnya, bayi tiba-tiba merentangkan kedua tangan ketika mendengar suara keras, menggenggam jari orang yang menyentuh telapak tangannya, atau menggerakkan mulut saat seseorang menyentuh pipinya.
Gerakan tersebut bukan sekadar kebiasaan. Bayi memiliki sejumlah refleks alami yang muncul sejak lahir sebagai bagian dari perkembangan sistem saraf. Refleks ini membantu bayi merespons lingkungan, mencari makanan, dan menyesuaikan diri dengan kehidupan di luar rahim.
Memahami refleks alami bayi baru lahir dapat membantu orang tua mengenali perkembangan anak sekaligus membedakan respons normal dengan tanda yang membutuhkan pemeriksaan dokter.
1. Refleks Moro Membuat Bayi Terkejut Secara Tiba-Tiba
Salah satu refleks yang sering terlihat pada bayi baru lahir adalah refleks Moro atau refleks terkejut. Bayi biasanya menunjukkan gerakan ini ketika mendengar suara keras, merasakan perubahan posisi secara mendadak, atau mengalami sensasi seperti kehilangan keseimbangan.
Saat refleks Moro muncul, bayi akan merentangkan kedua tangan dan membuka jari-jarinya. Setelah itu, ia menarik kembali kedua tangan ke arah tubuh seperti sedang memeluk sesuatu.
Gerakan tersebut merupakan respons alami sistem saraf bayi terhadap rangsangan tertentu. Refleks Moro umumnya mulai berkurang ketika bayi memasuki usia 3–4 bulan dan menghilang sekitar usia 6 bulan.
Orang tua tidak perlu langsung khawatir ketika bayi menunjukkan gerakan ini. Namun, jika bayi hanya menunjukkan refleks pada satu sisi tubuh atau gerakannya terlihat tidak seimbang, sebaiknya konsultasikan kepada dokter.
2. Refleks Menggenggam Membuat Bayi Memegang Jari Orang Tua
Pernahkah orang tua meletakkan jari pada telapak tangan bayi, kemudian bayi langsung menggenggamnya? Gerakan tersebut dikenal sebagai palmar grasp reflex atau refleks menggenggam.
Refleks ini muncul ketika seseorang menyentuh atau memberikan tekanan lembut pada telapak tangan bayi. Jari-jari bayi kemudian menutup secara otomatis dan menggenggam benda yang menyentuhnya.
Menariknya, bayi terkadang mampu menggenggam cukup kuat meskipun belum bisa mengendalikan gerakan tangannya secara sadar.
Refleks menggenggam biasanya mulai berkurang sekitar usia 4–6 bulan. Seiring perkembangan otot dan koordinasi tubuh, bayi perlahan belajar membuka serta menutup tangannya secara sengaja.
3. Refleks Rooting Membantu Bayi Menemukan Sumber ASI
Refleks rooting memiliki peran penting dalam proses menyusui. Ketika seseorang menyentuh pipi atau area sekitar mulut bayi, ia biasanya akan memutar kepala ke arah sentuhan tersebut.
Bayi juga dapat membuka mulut seolah sedang mencari sesuatu untuk diisap. Respons ini membantu bayi menemukan puting ibu ketika waktunya menyusu.
Refleks rooting sudah muncul sejak lahir dan menjadi salah satu kemampuan alami yang mendukung proses pemberian ASI.
Biasanya, refleks ini mulai berkurang ketika bayi berusia sekitar 3–4 bulan. Pada tahap tersebut, bayi mulai mengembangkan kemampuan untuk menggerakkan kepala dan mulut dengan lebih terarah.
4. Refleks Mengisap Membantu Bayi Mendapatkan Nutrisi
Selain mencari sumber ASI, bayi baru lahir juga memiliki refleks mengisap atau sucking reflex. Ketika puting, dot, atau jari bersih menyentuh langit-langit mulutnya, bayi akan mulai melakukan gerakan mengisap.
Refleks ini sangat penting karena membantu bayi mendapatkan nutrisi sejak awal kehidupan. Bersama refleks rooting dan kemampuan menelan, gerakan mengisap mendukung proses menyusui.
Seiring bertambahnya usia, bayi mulai menggabungkan gerakan mengisap, menelan, dan bernapas dengan lebih terkoordinasi.
Orang tua perlu memperhatikan kemampuan bayi saat menyusu. Jika bayi sering tersedak, kesulitan mengisap, atau tidak mampu menyusu dengan baik, mintalah bantuan tenaga kesehatan.
5. Refleks Babinski Membuat Jari Kaki Bayi Mengembang
Refleks Babinski merupakan respons alami yang muncul ketika seseorang mengusap bagian telapak kaki bayi dari tumit menuju jari-jari kaki.
Saat menerima rangsangan tersebut, ibu jari kaki bayi akan bergerak ke atas, sedangkan jari-jari lainnya membuka seperti kipas.
Gerakan ini berbeda dari respons orang dewasa. Pada bayi, refleks Babinski termasuk bagian normal dari perkembangan sistem saraf.
Seiring bertambahnya usia dan kematangan sistem saraf, respons tersebut akan berubah. Refleks Babinski umumnya menghilang pada usia sekitar 12–24 bulan.
Dokter biasanya memeriksa refleks ini sebagai salah satu cara untuk menilai perkembangan sistem saraf anak.
Mengapa Orang Tua Perlu Mengenali Refleks Bayi?
Refleks alami memberikan gambaran mengenai cara sistem saraf bayi merespons rangsangan. Dokter biasanya memeriksa beberapa refleks tersebut ketika melakukan pemeriksaan bayi baru lahir.
Melalui pemeriksaan ini, tenaga kesehatan dapat menilai respons gerakan, koordinasi dasar, serta perkembangan saraf bayi.
Orang tua juga bisa memperhatikan gerakan bayi ketika menggendong, menyusui, atau mengganti popok. Namun, pemeriksaan sederhana di rumah tidak dapat menggantikan pemeriksaan medis.
Jika bayi tidak menunjukkan refleks tertentu, memperlihatkan gerakan yang sangat tidak seimbang, atau mengalami kesulitan menyusu, orang tua sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.
Refleks Alami Merupakan Bagian dari Proses Tumbuh Kembang Bayi
Refleks alami bayi baru lahir menunjukkan bahwa tubuh memiliki mekanisme otomatis untuk merespons lingkungan. Mulai dari gerakan terkejut, menggenggam jari, mencari ASI, hingga mengisap, setiap refleks memiliki fungsi tersendiri pada awal kehidupan.
Sebagian besar refleks tersebut akan berkurang secara bertahap seiring perkembangan otak dan sistem saraf. Setelah itu, bayi mulai menggantinya dengan gerakan yang lebih terarah dan terkendali.
Dengan mengenali berbagai refleks tersebut, orang tua dapat memahami perkembangan bayi sejak hari pertama sekaligus mengetahui kapan perlu meminta bantuan tenaga kesehatan.
Baca juga: Perkembangan Indra Bayi Baru Lahir: Bagaimana Bayi Mengenali Dunia Sejak Hari Pertama?

